Rabu, 27 Juni 2007

Tentang Pohon Thoyyibah


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء

24. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik [*] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.

[*] Termasuk dalam "kalimat yang baik" ialah kalimat tauhid, segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan yang baik. Kalimat tauhid seperti "Laa ilaa ha illallaah".

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

25. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

Maha Besar Allah yang telah senantiasa memberikan petunjuk yang baik kepada manusia melalui kalam Nya. Petunjuk bagi mereka yang berfikir tentunya, begitulah Allah selalu memberikan batasan yang jelas terhadap segala sesuatu. Semoga kita semua termasuk di dalamnya, Amin.

PETUNJUK YANG NYATA

Masyaallah ….. Tidaklah sulit bagi Allah untuk membuktikan bahwa Ar – rohman dan Ar – rohim adalah sifat Nya, hanyalah kita makhluk yang selalu tidak tahu atau tidak tahu menahu karena tidak menggunakan akalnya untuk selalu berfikir. Lihatlah bagaimana setelah sebelumnya Allah memberikan gambaran tentang kebingungan manusia ketika “Yaumul Hisaab”. Kebingungan orang-orang yang telah menjadikan Syaithan yang menghuni rongga hatinya [Ibrohim:22] sebagai manusia yang terpedaya. dan bagaimana Allah menggambarkan orang-orang yang tetap dengan keimanannya dengan menjaga kemurnian ke Esa an Allah mengucapkan salam penghormatan kepada “Syurga” [Ibrohim:23] dan kekal dengan ijin Tuhan Nya. Kemudian barulah Allah memberikan petunjuk yang nyata agar orang-orang yang dikehendaki Nya bisa membersihkan rongga dadanya dari selain Allah, agar mereka bisa bebas dari tipu daya Syaithan. Begitulah Allah dengan sifat Rahman dan Rahimnya.

Tersebutlah dalam QS Ibrohim:24 Allah mengawalinya dengan peringatan yang keras (أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ), seolah ada hal yang sangat penting yang harus diperhatikan, dan memang begitulah adanya. Karena Allah telah membuat gambaran yang jelas tentang كَلِمَةً طَيِّبَةً yang tidak lain adalah kalimat suci nafi-isbat, kalimat yang menafikan semua yang baru dan mengisbatkan Yang Tak Berawal, Tak Berakhir dan berKekalan, kalimat yang begitu mengagungkan Allah, kalimat yang bisa menyelamatkan manusia dari selain Allah. Begitu suci dan agungnya sehingga Allah memandang begitu perlu untuk membuat gambaran-gambaran dan perumpamaan-perumpamaan sebagai bentuk pujian kepada kalimat suci tersebut. Maha suci Allah … bagaimana manusia tidak berfikir? Allah telah menciptakan sesuatu (kalimat suci tersebut) dan Allah pulalah yang begitu mengagungkan dan memujinya.

كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ seperti Pohon Thoyyibah Allah mengumpamakan Kalimat Suci tersebut, pohon yang kokoh, indah dan rindang. Yang أَصْلُهَا ثَابِتٌ akarnya kokoh teguh menancap ke bumi, menandakan tidak akan pernah roboh tumbang oleh apapun dan فَرْعُهَا فِي السَّمَاء cabangnya menjulang tinggi memenuhi langit, memberikan kerindangan dan kesejukan bagi bumi. Allahu Akbar, pohon apakah itu? Mengapa Allah sampai menggambarkan itu sedemikian megah dan tak pernah terpikir dalam dunia nyata?

Dan bukan hanya itu, Allah memberikan sesuatu hal yang lebih menakjubkan lagi terdapat dalam QS Ibrohim:25, تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ masyaallah… pohon itu akan berbuah di setiap musim, tidak akan berhenti berbuah di semua musim, musim hujan berbuah, musim kemarau berbuah, بِإِذْنِ رَبِّهَا dengan ijin Rabb nya, dengan ijin yang menanam atau yang merawat memelihara pohon tersebut. Begitulah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu dikhususkan bagi manusia agar selalu ingat kepada Allah.

Apakah sebenarnya yang tersirat dalam ayat-ayat ini? Apakah maksud Allah mengutus Jibril agar menyampaikan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan sebagai kabar yang begitu menggembirakan dan menyenangkan. Marilah kita coba men – tafakkuri - nya dan menafsirkannya melalui pendekatan ilmu thoriqoh, karena kita sedang menempuhnya, dan kita sedang melaksanakannya atau mengamalkannya.

كَلِمَةً طَيِّبَةً atau kalimat suci “Laa ilaaha illallaah” dengan jelas digambarkan sebagai Pohon Thoyyibah yang sedemikian megahnya, beruntunglah kita (para ikhwan) yang telah mempunyai bibitnya dari “talqin”. Tingga bagaimana kita menanamnya dan merawatnya agar kita diberi wewenang oleh Allah untuk membuat pohon itu berbuah dan memetik buahnya kapan saja kita membutuhkannya, karena dengan jelas Allah mengatakan بِإِذْنِ رَبِّهَا bukan “Atas Ijin Allah” tapi “Atas Ijin Rabbnya”.

Kita yang akan membuatnya berbuah dan memetik buahnya kapan saja kita membutuhkannya, tentu saja jika syarat yang di gambarkan oleh Allah dalam QS Ibrohim:24 telah terpenuhi.

Yang pertama adalah jika kalimat suci “Laa ilaaha illallah” akarnya benar-benar tertancap teguh dalam rongga dada kita, dalam hati dan qalbu, selalu ada dan tidak pernah hilang dalam keadaan apapun. Lalu bagaimana kita menanam bibit Pohon Thoyyibah dan dan merawatnya agar akarnya kuat tertancap di dalam rongga dada kita? Sehingga tumbuh subur bercabang rindang, sehingga kita bisa memenuhi syarat kedua yang digambarkan Allah yaitu : kerindangan daun dan cabang kalimat suci “Laa ilaaha illallaah” memenuhi langit-langit otak kita, dingin dan menyejukkan. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk merawat Pohon Thoyyibah ini, agar kita dapat membuatnya berbuah dan memetiknya di setiap musim, sekarang di dunia maupun nanti di akherat.

Bukannya tiada maksud Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu, melainkan agar kita selalu mengingat Allah, selalu berdzikir kepada Allah.

MENGAPA SURAT IBROHIM

Setelah diperhatikan, ada hal yang sudah sepatutnya dipertanyakan. Mengapa perumpamaan-perumpamaan “Kalimat Suci” atau “Kalimat Thayyibah” ini diletakkan di surat Ibrohim? Mengapa bukan surat-surat yang lain?

Begitu telitinya Allah sehingga telah menempatkan sesuatu di tempat sebagaimana mestinya, Allah telah memberikan bingkai perumpamaan- perumpamaan itu dengan sosok Ibrohim yang begitu dikaguminya, begitu dikagumi sehingga diabadikan dalam Shalawat Ibrohimy kita memohon salam bagi baginda Rosul seperti Allah telah memberikan salam Nya kepada Ibrohim, memohon berkah bagi baginda Rosul seperti Allah telah memberikan berkah Nya kepada Ibrohim. Bukankah kita telah tahu bahwa yang terakhir lebih baik dari yang mengawali?

Apa sebenarnya yang terjadi dengan Ibrohim, sehingga telah mendapatkan penghormatan khusus dari Allah?

Dalam Al Quran sudah jelas bahwa Ibrohim lah satu-satunya yang telah terbukti mengamalkan “Kalimat Thoyyibah”, yang telah berhasil menjadikan Allah satu-satunya yang ada dalam hatinya, bukan anak (Ismail) hasil munajatnya kepada Allah selama 20 tahun, yang selalu diimpikan dan diidamkan. Maka ketika Allah meminta kembali sesuatu yang memang bukan kepunyaan Ibrohim, beliau sedikitpun tidak merasa ragu untuk menyerahkannya. Karena walau bagaimanapun Ismail menjelma menjadi sesuatu yang dikasihi dan disayanginya, tapi tidak pernah menggeser posisi Allah yang telah memenuhi rongga hatinya. Seperti yang telah diamalkannya dalam “Kalimat Thoyyibah”.

Hal yang tidak bisa kita bayangkan, bagaimana bisa sesuatu yang diidamkan selama 20 tahun telah didapatkan, tidak dalam waktu yang lama harus dikembalikan? Bagaimana dengan kita (para ikhwan) yang mengaku telah mengamalkan “Kalimat Thoyyibah” ? apakah Allah telah menjadi “The One” satu-satunya yang ada dalam hati kita. Apakah masih ada sesuatu yang lain yang membuat hati kita mendua, atau bahkan menghilangkan Allah sama sekali dari hati.

Begitulah Ibrohim, selain mendapatkan penghormatan khusus dari Allah, Ibrohim juga telah mendapatkan hadiah di dunia, dengan digantikannya Ismail oleh Allah dengan domba sebagai lambang “Al Maidah” yang sempurna. Kulitnya yang begitu hangat untuk dijadikan pakaian, dagingnya yang cukup untuk dimakan. Maka yakinlah dengan “Pohon Thoyyibah” yang buahnya juga bisa dinikmati pada segala musim, termasuk di dunia.

Tidak ada komentar: